Senin, 17 Mei 2010

Mari Lakukan Penghijauan Beton-Beton Kota

Saat ini, seringkali kebijakan dan realisasi pembangunan perkotaan terkadang bergesekan dengan kepentingan mengurangi pemanasan global (global warming), menipisnya lapisan ozon di angkasa dan pelestarian lingkungan. Gesekan tersebut akhirnya akan merugikan lingkungan perkotaan itu sendiri. Cepatnya pembangunan perkotaan seringkali mengurangi ruang-ruang terbuka hijau yang seharusnya dipertahankan. Misalnya di Kota Malang, banyak pembangunan ruko yang mengurangi kawasan Ruang Terbuka Hijau selama empat tahun terakhir. Ditambah lagi, padatnya jumlah kendaraan bermotor dan pabrik, sehingga kawasan perkotaan sudah dipastikan akan sesak oleh polutan-polutan hasil pembakaran bahan bakar yang menghasilkan gas CO atau CO2. Padahal keberadaan ruang terbuka hijau sangat dibutuhkan untuk mendinginkan udara, mengurangi polutan-polutan dan water catchment area agar kualitas udara perkotaan tetap stabil atau meningkat.
            Salah satu alternatif solusi untuk memecahkan permasalahan di atas adalah pembangunan taman-taman atap gedung. Pembangunan taman-taman atap gedung perkotaan bukan lagi hal yang baru di beberapa negara maju. Misalnya Jerman dengan nama ecoroof project nya. Jerman merupakan pelopor pembangunan ruang hijau atap bangunan di belahan Benua Eropa bersama dengan Swiss, Austria dan Skandinavia. Pada tahun 1989, negara yang pernah dipimpin Hitler ini berhasil menghijaukan atap gedung bertingkat seluas satu juta meter persegi dan pada tahun 1996 berhasil menghijaukan seluas 288.000 meter persegi. Dalam kurun waktu tujuh tahun (1989 – 1996), total atap gedung yang berhasil dihijaukan mencapai 10 juta meter persegi dengan proporsi diantara sepuluh atap gedung teradapat satu taman atap. Sebagai salah satu negara pelopor, keberhasilan pembangunan taman atap ini tentunya tidak terlepas dari dukungan peraturan dan finansial pemerintah kota sebesar 35 – 40 DM untuk setiap meter persegi luas atap.
            Negara yang sudah mengaplikasikan konsep taman atap gedung diantaranya Jepang dan Hongkong di Asia. Konsep ini dikenal dengan nama flying green project. Pada tahun 2001, Pemerintah Kota Tokyo menata ulang kota dengan mengharuskan setiap bangunan pemerintah memiliki raung terbuka hijau. Selanjutnya, penyediaan ruang terbuka hijau ini diikuti oleh warga dengan kesadarannya sendiri. Kemudian, Pemerintah Jepang memberlakukan aturan yang mewajibkan penyediaan minimum 20% dari areal atap datar gedung bertingkat sebagai ruang hijau sejak 1 April 2004. Peraturan ini berlaku untuk setiap pembangunan gedung layanan publik yang memiliki luas minimum 250 meter persegi atau fasilitas komersial privat yang memiliki luas minimum 1.000 meter persegi. Sebagaimana Jepang, Pemerintah Hongkong juga menerapkan aturan yang sama dalam mengelola dan menghijaukan atap gedung. Hongkong telah menerbitkan surat keputusan bersama tiga Menteri (bidang Bangunan, bidang Lahan dan bidang Perencanaan) yang memasukkan penghijauan atap bangunan dalam standard pembangunan gedung tinggi dalam mensukseskan areal hijau kota.

Manfaat Pembangunan Taman Atap
Dengan adanya taman atap kota, negara-negara pembuat komitmen telah merasakan banyak manfaatnya. Pertama, menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Karena adanya proses fotosintesis, tanaman akan menyerap karbondioksida dan mengubahnya menjadi oksigen ketika bereaksi dengan air sehingga kualitas udara menjadi lebih baik. Menurut pemberitaan Harian Umum Kompas tanggal 22 Januari 2008, taman atap seluas 155 meter persegi mampu menghasilkan oksigen yang cukup bagi satu orang per hari (24 jam). Sementara itu, taman atap yang dilengkapi pepohonan mampu menghasilkan oksigen yang cukup bagi 10 orang setiap jam. Beberapa ahli lingkungan menyebutkan, setiap satu hektar lahan hijau dapat mengubah 3,7 ton CO2 dari aktivitas manusia, pabrik, dan kendaraan bermotor menjadi dua ton O2 yang dibutuhkan manusia. Penelitian lainnya juga mengungkapkan, pepohonan di areal seluas 300 x 400 meter mampu menurunkan konsentrasi debu di udara dari 7.000 partikel per liter menjadi 4.000 partikel per liter.
 Kedua, menurunnya suhu bangunan dan lingkungan sekitarnya. Rumput atau tanaman lainnya yang menutupi atap bangunan terbukti mampu menurunkan suhu kota sekitar 4,2 derajat oC. Bahkan pada penelitian lainnya menunjukkan, taman atap mampu mendinginkan permukaan bangunan dari 58 derajat Celcius menjadi 31 oC, dan menurunkan suhu dalam bangunan 3-4 derajat oC lebih rendah dari suhu di luar bangunan. Dengan adanya tanaman pada atap gedung, radiasi matahari akan ditahan, diserap dan dipantulkan kembali ke atmosfer sebelum mengenai atap gedung. Kemampuan tanaman yang berada di atap gedung dalam meredam radiasi sinar matahari ini mencapai 80 persen. Karena itu, tidaklah heran jika suhu di sekitar bangunan jadi menurun.
Ketiga, konservasi air. Pada saat hujan turun, tanaman akan menyimpan sebagian air pada permukaan tubuhnya dan memberikan kesempatan lebih lama kepada air untuk meresap ke dalam tanah/media tanam. Kemudian, sebagian dari air hujan tersebut diuapkan kembali oleh tanaman dan media tumbuh (tanah) dan sebagian lagi dialirkan melalui dasar media. Berkat jasa tanaman, taman atap mampu mengkonservasi dan menyerap air hujan sampai 75 persen. Selanjutnya, air-air yang tersimpan ini dapat dimanfaatkan untuk menyiram kloset dalam gedung, menyiram tanaman, dan mencuci kendaraan para pengguna gedung. Keempat, menghemat energi. Karena kemampuannya dalam meredam radiasi matahari dan menyimpan sementara air hujan pada lapisan tanah sehingga atap menjadi lebih dingin, maka taman atap dapat mengurangi penggunaan energi listrik untuk perangkat pendingin udara (AC). Besarnya energi listrik yang dapat dihemat untuk pemakaian AC oleh sebuah gedung karena adanya taman atap mencapai 50 – 70 persen atau total hemat listrik sekitar 15 persen per tahun.
Keenam, meningkatkan kesehatan. Gedung atau kondisi lingkungan yang tidak sehat banyak menimbulkan penyakit mulai asma hingga penyakit pernapasan lain. Taman atap dapat membantu menyerap debu dan polutan yang berada di sekitar gedung atau bangunan. Terserapnya berbagai polutan dan dihasilkannya oksigen oleh tanaman atap menyebabkan membaiknya kualitas udara disekitar gedung sehingga kesehatan para penghuninyapun akan meningkat. Ketujuh, meningkatkan keanekaragaman hayati. Adanya penanaman dengan berbagai jenis tanaman berarti telah meningkatkan keragaman hayati di lingkungan perkotaan. Tidak hanya itu, adanya berbagai tanaman di atas gedung juga berarti penyediaan sumber pakan dan habitat satwa liar sehingga menarik berbagai jenis hewan. Karena itu, pembangunan taman atap memberikan peluang untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna di lingkungan perkotaan.
Selain ketujuh manfaat di atas, taman atap memiliki banyak manfaat lainnya. Misalnya, taman atap mampu melindungi lapisan penahan air (waterproofing) atap dari radiasi ultra-violet, fluktuasi ekstrem suhu udara, dan kerusakan fisik, sehingga dapat memperpanjang usia lapisan sampai 20 tahun ke depan. Dengan demikian, kepentingan pembangunan seringkali ditempatkan di atas kepentingan lingkungan hidup. Karena itu tidaklah heran bila ruang terbuka hijau makin menyempit dan gedung-gedung bertingkat makin bertambah banyak. Bagi kota-kota besar, keberadaan taman atap sangat penting. Ini karena taman atap memiliki banyak manfaat seperti, menyerap polutan, menurunkan suhu udara kota, menghasilkan oksigen, tempat rekreasi, meningkatkan kesehatan, meningkatkan atau menjaga keanekaragaman hayati, dan mengawetkan usia bangunan. Karena pentingnya keberadaan taman atap, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah sebaiknya memberlakukan pembangunan taman-taman atap pada pengelola bangunan, baik instansi pemerintah maupun swasta untuk mencegah pemanasan global dan krisis air di masa depan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar