Rabu, 19 Mei 2010

JANGAN PILIH CALON PEMIMPIN MAHASISWA LEMOT !!!

Oleh : Satriya Nugraha
Mantan Presiden BEM Fakultas Pertanian Unibraw 2000-2002
Jangan, jangan pilih mereka
Memimpin mahasiswa tidak tahu caranya
Hanya sekedar simbol dan kharismatik saja
LKM-UB mau dibawa kemana ?

Lirik di atas agaknya pas kalau didendangkan dalam lagu ketika masa kampanye pemilihan calon pemimpin mahasiswa (capimwa) di lingkungan universitas Brawijaya. Biasanya pemilihan capimwa terjadi di unit aktivitas unibraw, misal KSR, IAAS, Impala dsb ; himpunan mahasiswa jurusan misal HMIT, HIMALOGISTA, HMM dsb ; Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas, misal BEM-FP, BEM-FK, Dewan Teknik dsb ; DPM-UB dan EM-UB serta Lembaga Pers Mahasiswa, misal LPM Canopy, LPM Indikator, LPM Mafaterna dan sebagainya.
            Ada sebagian capimwa tidak tahu diri yang tetap ngotot dan berambisi bercokol di arena perpolitikan mahasiswa LKM-UB, biarpun mungkin ada gerakan penolakan politisi busuk mahasiswa. Kita sebaiknya mensosialisasikan kepada rakyat yaitu beragamnya mahasiswa agar harus tahu memilih dan mengendalikan diri untuk tidak mempertaruhkan nasib LKM-UB demi kelompok atau golongan tertentu.
            Lemot, kepanjangannya lemah otak dan memiliki arti bodoh, tidak banyak wawasan, tidak mau mendengarkan orang lain tetapi paradigma dan produksi pikirannya sering menggelikan. Kalau politisi busuk mahasiswa wajib ditolak, begitu pula politisi mahasiwa lemot juga tidak layak menjadi capimwa, mungkin capres BEM-F, ca-kahim, caka-unitas ataupun ca-LPM. Karena jabatan itu pasti menuntut kemampuan intelektual memadai, moralitas teruji, akhlak yang indah, mulia dan tentu saja bermacam wawasan yang layak dimiliki sesuai kapasitas jabatannya.
            Lha, apakah para wakil mahasiswa atau capimwa universitas Brawijaya sudah memenuhi kriteria tersebut ?. Padahal kalau diamati, dikaji dan dianalisis berbagai pendapat tentang pemimpin yang baik dan metode kepemimpinan, hampir semua pasti menjelaskan kekuatan-kekuatan positif yang membuat seseorang terseleksi entah lewat proses sejarah hidup atau proses lain, menjadi pemimpin sejati, pemimpin yang didambakan dan disayang.
            Mengingat, tidak semua capimwa bisa menjadi pemimpin sejati, karena biasanya pemimpin sejati lahir dari sebuah proses perjuangan dan pengorbanan panjang karena memperjuangkan nilai-nilai dan prinsip hidup yang arahnya membela kepentingan rakyat seperti capimwa membela kepentingan mahasiswa. Sekali lagi, kepentingan mahasiswa banyak bukan kepentingan OMEK atau parpol pun.
            Menurut Joewono, Baby (2004) dalam Harian Surya berpendapat bahwa dalam sebuah mimbar Jum’at online, dinyatakan pemimpin yang baik menurut Islam adalah sesuai dengan hadits : “Sebaik-baik pemimpin negara kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin negara kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian. (Hadits shahih Riwayat Muslim).
            Kalau kita paham mencermati, paragraf di atas terbaca sederhana dan hanya terdiri dari empat kalimat pendek. Empat inti kata hanya masalah cinta, doa, benci dan laknat ; antara yang memimpin dan dipimpin. Mengapa ?. Karena mereka mencintai rakyat. Mereka memikirkan rakyat sebelum memikirkan diri sendiri. Dan itu belum tampak nyata di lingkungan Lembaga Kedaulatan Mahasiswa Unibraw.
            Marilah kita sekilas mengamati, para pemimpin mahasiswa unibraw sekarang mungkin lebih mementingkan ego pribadi, ego kekerabatan, ego golongan atau kelompok tertentu. Padahal mereka sebagai pemimpin mahasiwa sebaiknya menjadi milik bersama anggota LKM-UB yang dipimpinnya. Mana pernah kita mendengar ada pemimpin mahasiswa LKM-UB yang tidak mampu bayar SPP, hidup sederhana, rendah hati, peduli mahasiswa terminal kuliah karena alasan biaya. Yang ada, justru mereka mungkin selalu merasa yang paling benar, memimpin mutlak untuk kepentingan pribadi, tidak tahu diri, peduli fakultas sendiri, tidak peka lingkungan dan sebagainya.
            Pemimpin mahasiswa yang cinta rakyat mahasiswa akan menunjukkan bukti cintanya, dengan sikap tanggung jawab. Susah dan senang dijalani bersama dan kehidupannya tidak akan glamour, hedon, dibanding rakyatnya. Ia tidak berkhianat terhadap rakyat yang mempercayainya dengan penuh harapan. Begitu juga mengapa masih ada rakyat mahasiswa, yang notabene sibuk membangun kehidupan mereka sendiri, bahkan sempat, mau dan ikhlas memikirkan serta mendoakan seorang pemimpin mahasiswa ?.
            Karena do’a merupakan sesuatu dari hati nurani terdalam yang dianggap sebagai bisikan paling pribadi kepada Tuhan. Melalui pengucapan do’a, sebagian mahasiswa mengharapkan pemimpin mahasiswa senantiasa dalam kebaikan dan lindungan Allah swt., karena mereka merasa selama ini sang pemimpin mahasiswa selalu bersama mereka, peduli kehidupan dan kebahagiaan mereka, mau berjuang dan berkorban untuk mereka.
            Mereka yakin bahwa sang pemimpin senantiasa juga berdo’a bagi kehidupan bersama sehingga rakyat merasa harus mendoakan sang pemimpin mahasiswa. Perjuangan sang pemimpin adalah untuk  rakyat yang dipimpin, bukan untuk yang lain yang mungkin bisa bernama kelompok atau golongan tertentu, kekuasaan, fasilitas, kepopuleran atau ambisi. Dijelaskan juga dalam hadits di atas bahwa pemimpin paling buruk adalah yang dibenci rakyatnya. Mengapa ?. semuanya tentu tergantung apa yang dilakukan sang pemimpin terhadap rakyatnya.
Misal apakah pemimpin mahasiswa berhasil mengkritisi kebijakan fakultas atau rektorat ?, seperti SPP, uang gedung, akademik, presensi dosen, IOM, beasiswa dan lain-lain. Apakah keberadaan LKM-UB diperuntukkan bagi kesejahteraan hidup mahasiswa atau dikuasai sendiri sehingga banyak mahasiswa kesusahan ?. Mengingat, rakyat mahasiswa yang membenci pemimpinnya pasti adalah mereka yang tidak pernah diberi kesempatan dan ruang untuk berkembang, aktualisasi diri dan bermartabat.
Mereka hidup di LKM-UB tetapi hidup bagaikan pengungsi yang tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa masa depan, tanpa keahlian berarti setelah menjadi sarjana. Ironis, apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin mahasiswa terhadap rakyat LKM-UB sendiri ?. Apakah memimpin itu hanya sekedar berkuasa dan mengatur ?. Apakah sekedar popularitas dan banyak teman yang menguntungkan belaka ?. Apakah hanya ingin dikenal oleh banyak cewek cantik atau cowok ganteng saja ?.
Pemimpin mahasiswa yang membenci rakyatnya, diartikan benci untuk mengurusi segala kerumitan dan kompleknya persoalan mahasiswa, memang tidak mungkin akan dicintai. Kebencian atau kemalasan untuk bersedia repot memperjuangkan kesejahteraan rakyat mahasiswa, yang sebetulnya memang tugas utamanya, akan menghasilkan kebencian rakyat yang ditelantarkannya. Selain itu, yang terburuk juga adalah apabila rakyat melaknat pemimpin mereka. Rasanya ini akan terjadi ketika sang pemimpin mahasiswa dahulu melaknat mereka dengan berbagai perbuatan yang amat menyengsarakan. Apalagi bila tanpa pernah merasa bersalah.
Mungkin pemimpin mahasiswa menganggap kekuasaan sebagai kenikmatan dan kesempatan untuk diri sendiri belaka, tanpa paham tugas apa yang sebenarnya diembannya. Kekuasaan diterima sebagai suatu “rejeki nomplok”, bukan tanggung jawab berat yang benar-benar membuatnya berpikir dan berupaya keras sehingga ketika terpilih, bukannya berdo’a atau berikhtiar, malah berpesta pora dan tersenyum habis-habisan. Bukan bekerja untuk rakyat yang dipikirkan, melainkan membayangkan bagaimana kemegahan dan kekuasaan yang akan dipegangnya.
Banyak sebenarnya pendapat yang menawarkan tentang pemimpin yang baik sebagai pedoman memilih capimwa unibraw. Misalnya yang mampu dan mau mendengarkan dengan telinga, mata dan hati, yang punya perasaan, jiwa dan intelektual memadai, yang punya wawasan tentang mengelola dan memimpin, yang tidak egois dan tidak serakah, yang beriman, yang mampu berkomunikasi dan banyak lagi pendapat yang layak untuk diamini.
Dengan demikian, untuk seorang pemimpin atau capimwa dari sebuah negara LKM-UB utamanya yang sedang stroke berat macam LKM-UB, kita tidak butuh capimwa lemot alias minim wawasan, baik wawasan tentang arti manajerial, kepemimpinan, profesionalisme dan juga wawasan religi. Karena, seorang pemimpin mahasiswa sebuah negeri LKM-UB harus menjadi seorang pekerja professional yang mengelola LKM-UB dengan seluruh asetnya termasuk aset yang bernama rakyat mahasiswa.
                                    Malang, 28 April 2004
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar