Selasa, 18 Mei 2010

Kiat Petani Menghadapi Perubahan Iklim

Oleh : Satriya Nugraha, SP
satriya1998@gmail.com
Konsultan Pertanian Organik dan Evaluasi Lahan Pertanian
Mantan Presiden BEM Fakultas Pertanian Unibraw 2000-2002

            Istilah perubahan iklim (climate change) mungkin masih asing bagi sebagian besar petani. Tetapi coba tanyakan dalam bahasa daerah mereka masing-masing. Punapa mangsanipun malih ? Geus teu usumna ? Yu lera sele geu ? Kesonda raka attunna ? Musim jih meu ubah ?. Pasti petani akan lancar bercerita tentang apa yang mereka alami. Perubahan musim kemarau-hujan, makin sulitnya mendapatkan air dan makin panasnya suhu udara.
            Petani adalah pihak yang paling merasakan akibat perubahan iklim meskipun mereka tidak benar-benar memahami konsep dasar perubahan iklim. Khusus bagi petani skala kecil yang hanya memiliki sumber daya dan pilihan terbatas, perubahan iklim seringkali drastis dan datang tiba-tiba bisa mengancam keberlangsungan penghidupan mereka. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pertanian konvensional yang dipakai secara luas sejak era Revolusi Hijau turut menyumbang pada terjadinya perubahan iklim.
            Pertanian konvensional yang intensif (baik dari sisi pemakaian mesin pertanian atau luasan lahan) memicu penebangan hutan untuk membuka lahan. Hujan sangat deras yang belakangan kian sering terjadi mempercepat pengikisan lapisan atas tanah. Gundulnya hutan berarti hilangnya bahan organik dari tanah. Padahal bahan organik berperan mengikat air dan menahan laju penguapan. Tidak heran lebih banyak terjadi kekeringan. Berkurangnya jumlah vegetasi juga menurunkan kelembaban udara dan meningkatkan suhu udara.
            Produksi pupuk dan pestisida kimia yang dipakai pertanian konvensional juga menghasilkan gas rumah kaca yang merupakan salah satu pemicu terjadinya perubahan iklim. Sementara aplikasinya pada lahan telah menurunkan kesuburan dan menyebabkan erosi tanah. Dan seperti lingkaran setan, perubahan iklim yang terjadi membuat efek negatif dari pertanian konvensional menjadi lebih parah dan berlangsung lebih cepat.
            Fenomena perubahan iklim sangat berimbas pada pertanian. Pertama, pergeseran pola musim. Secara perlahan, pergeseran ini mulai merubah pola tanam. Jika semai benih tidak tepat, bisa jadi benih tidak akan tumbuh karena kekurangan air. Untuk antisipasi, petani harus memiliki persediaan benih lebih banyak untuk persemaian ulang. Alternatif lain, bisa memanfaatkan pengetahuan lokal seperti pranata mangsa agar aktivitas pertanian sesuai dengan kondisi iklim. Pergeseran musim hujan dan kemarau akan mempengaruhi proses pembungaan tanaman.
            Kedua, terjadinya kenaikan suhu. Laporan terakhir dari Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan bahwa dalam satu abad terakhir terjadi kenaikan rata-rata suhu dunia sebesar 0,76 0 C. Kenaikan suhu menjadi ancaman serius bagi petani, terkait dengan pola penyebaran hama dan penyakit. Karena kondisi lingkungan menghangat, ada beberapa hama dan penyakit yang tadinya bukan ancaman serius bagi pertanian, berubah menjadi sangat merusak.
            Ketiga, kekeringan berkepanjangan yang makin banyak terjadi. Kian menipisnya ketersediaan air ini disebabkan oleh peningkatan penguapan akibat peningkatan suhu udara dan hilangnya vegetasi penutup tanah. Belakangan banyak terjadi ketidakseimbangan jumlah air di musim kemarau dan musim hujan. Masyarakat mengalami kekurangan air di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan. Untuk beradaptasi kondisi ini, petani perlu mengembangkan cara bertani yang lebih hemat air.
              Cara bertani organik dan yang lebih berkelanjutan adalah strategi paling jitu. Pertanian berkelanjutan yang mengedepankan keberagaman jenis tanaman dan integrasi ternak lebih mampu bertahan menghadapi tekanan perubahan iklim. Pola tanam berlapis mulai dari penutup tanah hingga pohon akan membantu tanah mengikat air lebih baik, sehingga mampu menghadapi kekeringan dan meningkatkan produksi tanaman. Kotoran ternak dan serasah (sisa tanaman) bisa menjadi mulsa dan pupuk organik yang menyuburkan dan menjaga kelembaban tanah.
Tanaman yang beragam juga menjamin ketahanan pangan bagi keluarga petani. Karena jika satu jenis tanaman gagal panen, masih ada cadangan panen dari jenis tanaman lain. Pemakaian benih / bibit unggul – misalnya yang tahan kekeringan – bisa menjadi pilihan untuk antisipasi gagal panen. Petani bisa mencoba budidayakan jenis tanaman tradisional atau tanaman yang selama ini kurang diperhitungkan. Perubahan iklim memang terjadi dalam skala global. Tetapi dampaknya justru lebih terasa di tingkat lokal. Karena itu, perlu adanya cara berpikir antisipatif dan peran aktif petani untuk menghadapi tekanan perubahan iklim. Amin.

                                                                                             Malang, 22 November 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar