Sabtu, 19 Mei 2012

Kereta Apiku Sayang Kereta Apiku Malang


Oleh : Satriya Nugraha, SP
Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI
Dari Provinsi Jawa Timur 2014-2019
Konsultan Ekowisata, Wirausaha Mesin Abon Ikan “BONIK”
CV FIVASS GENERAL TRADING (Pertanian, Peternakan, Perikanan)
satriya1998@gmail.com ; satriya1998@yahoo.com

Pada tanggal 26 Januari 2012, pukul 15.45 wib, saya menaiki Kereta Api Malabar jurusan Malang-Bandung dari Stasiun Kota Malang. Saya naik kereta api tersebut bertujuan menghadiri undangan pertemuan resmi Direktur Utama PT Alamanda Sejati Utama Bandung, perusahaan eksportir jamur kancing dan jamur portabello ke luar negeri (ekspor ke Malaysia dan Singapura). Saya menaiki kereta api yang sudah bertahun-tahun tidak mengalami perubahan sistem dan manajemen yang visioner. Ada beberapa hal yang perlu dikaji ulang Perumka yang memiliki kereta api sebagai transportasi umum dan bertugas melayani publik sesuai UU Nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik.

Pertama, Mengapa kereta api sering berhenti di beberapa stasiun yang memiliki 2 jalur, untuk antri kereta api lainnya lewat, padahal untuk efisiensi, kereta api Indonesia bisa membeli kereta api modern magnetik dari Jepang atau Korea Selatan. Apalagi bantalan rel kereta api sering diperbaiki secara manual, memakai pegawai Perumka untuk awasi apa ada mur atau baut kendor, hilang, bantalan rel kereta api bergoyang, mereka berjalan tiap kilometer pada malam hari. Inilah manajemen tidak efisien dan tidak ada perubahan berarti.

Perumka sebaiknya cukup menggunakan rel kereta api magnetik apabila menggunakan kereta api modern magnetik, sehingga efisiensi memakai bantalan kayu rel kereta api, mur, baut dan sumber daya manusia. Kemudian kereta api sebaiknya dipisah tiga jalur yaitu jalur pertama untuk kereta api eksekutif, jalur kedua untuk kereta api bisnis, jalur ketiga untuk kereta api ekonomi. Yang membedakan hanya faktor harga tiket pembelian, faktor waktu, tiap jalur selisih sejam atau dua jam.

Faktanya dengan menggunakan kereta api lama, hanya memisahkan gerbong kereta api untuk eksekutif, bisnis dan ekonomi, waktu keberangkatan sama, yang membedakan hanya harga tiket keberangkatan. Padahal sebaiknya ada kereta api khusus eksekutif sendiri, khusus bisnis sendiri, khusus ekonomi sendiri. Masyarakat bisa nyaman memilih kereta api sesuai kantong uang mereka dan adanya efisien waktu, biaya, penggunaan sumberdaya manusia, pelayanan keramahan dan sebagainya

Kedua, adanya perbedaan fasilitas, terutama makanan higienis dan rasanya enak sebanding dengan harga yang mahal, kebersihan toilet, air yang bersih, adanya pengeras suara tiap kursi untuk memesan makanan dan/atau minuman. Hal ini untuk memudahkan pegawai tidak mondar-mandir tiap gerbong menjajakan makanan/minuman. Adanya kamera video pengawas (CCTV) untuk kereta api bisnis dan eksekutif, sehingga wisatawan luar negeri bisa merasakan nyaman menggunakan jasa kereta api Perumka.

Ketiga, perlunya keramahan bagian tiket dan keamanan, dengan melakukan sikap senyum, sapa dan ramah kepada tiap publik pengguna jasa kereta api. Perlunya pos pengaduan pelayanan publik jasa kereta api sehingga masyarakat merasa aman dan nyaman dalam menggunakan transportasi umum. Kemudian Managemen Perumka perlu melakukan kegiatan indeks kepuasan masyarakat,menyusun standar pelayanan publik dengan melibatkan pemangku kepentingan pengguna jasa kereta api sesuai amanah UU 25/2009 tentang pelayanan publik. Perumka perlu memahami UU 22/2009 tentang Angkutan dan Lalu Lintas Jalan.

Harapannya, transportasi kereta api sebagai transportasi umum atau publik yang modern, nyaman, bersih akan mengurangi jumlah kendaraan bermotor baik sepeda motor, maupun mobil sehingga mengurangi jumlah kemacetan di sepanjang jalan di Indonesia. Apabila beberapa masukan di atas terwujud sesegera mungkin maka tidak akan terjadi nasib kereta apiku malang, kereta apiku sayang. Semoga ulasan ini dapat menjadikan cambuk bagi jajaran Direksi dan Managemen Perumka untuk menjadikan kereta api sebagai salah satu transportasi publik yang berprestasi dan unggulan dalam penilaian masyarakat di masa depan. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar