Jumat, 25 Februari 2011

Evaluasi Mutu Pelayanan Kepariwisataan Jatim

Oleh : Satriya Nugraha, SP
satriya1998@gmail.com
Mantan Presiden BEM FP UB 2000-2002
Anggota Masyarakat Pariwisata Indonesia Jatim (MPI Jatim)

Sebagai salah satu tujuan daerah tujuan wisata di Indonesia, Provinsi Jawa Timur memiliki beragam potensi pariwisata selain karena letaknya yang strategis, memiliki aneka ragam obyek dan daya tarik wisata baik wisata alami, wisata budaya maupun wisata buatan manusia. Potensi yang luar biasa tersebut apabila dikelola dengan baik tentu akan mampu menjadi salah satu sumber perolehan PAD dan menjadi pengungkit andalan perekonomian Jawa Timur. Pariwisata diharapkan mampu menggerakkan roda kegiatan perekonomian, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.
Bertitik tolak dari hal tersebut, maka Biro Administrasi Kemasyarakatan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, mengadakan Rapat Evaluasi Mutu Pelayanan Kepariwisataan di Jawa Timur mulai 23 sampai 25 Februari 2011 di Hotel Inna Tretes Pasuruan. Rapat ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing destinasi pariwisata di Jawa Timur dalam menghadapi era globalisasi, untuk meningkatkan dan mengembangkan destinasi pariwisata di Jawa Timur yang berbasis keanekaragaman produk pariwisata yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dan untuk meningkatkan mutu pelayanan kepariwisataan di Jawa Timur dalam rangka mewujudkan Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan.
Peserta kegiatan ini 38 Kabupaten / Kota Se Jawa Timur yaitu dari unsur Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pengelola wisata alami maupun buatan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, akademisi pariwisata, Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI Jatim), Himpunan Pramuwisata Indonesia dan sebagainya. Metode yang digunakan adalah penyajian materi, session tanya jawab dan dilanjutkan dengan diskusi kelompok : a. Membahas mutu pelayanan birokrasi, b. Membahas mutu pelayanan produk kepariwisataan dan c. Membahas mutu promosi kepariwisataan.
Adapun narasumber Rapat ini yaitu Handoyo (Disbudpar Provinsi Jawa Timur) mengemukakan bahwa kinerja pengembangan kebudayaan dapat dilihat melalui indikator prestasi, diantaranya : Kategori 10 Besar dalam acara Penghargaan Nasional Desa Wisata Tahun 2010 tanggal 16 Juli 2010 bertempat di Area Jam Gadang Bukit Tinggi Sumatera Barat. Kedua, Penghargaan Thropy Bergilir ”IBU TIEN SOEHARTO: dalam Parade Tari Nusantara di TMII Jakarta pada tanggal 7 Agustus 2010 dalam bentuk pengiriman tim kesenian yang dibawakan oleh sanggar seni ”Gitomaron” dengan membawakan tarian ”Kembang Pregon”. Kemudian Juara I dalam kriteria penataan stand terbaik pada Nusa Dua Fiesta 2010 pada tanggal 15-19 Oktober 2010. Juara I Helaran Tingkat Nasional Kemilau Nusantara tanggal 22-24 Oktober 2010 dalam bentuk kegiatan kolaborasi lagu daerah dan gerak tari dengan tema ”Dewi Songgol Langit Panemboyo”. dan masih banyak lagi.
Sedangkan Dwi Cahyono, SE (Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jatim) mengemukakan bahwa meningkatkan pelayanan pariwisata bisa menggunakan web dan harus web. internet tidak semata-mata hanya merupakan temuan teknologi belaka, tetapi juga merupakan guide yang membantu calon wisatawan menemukan berbagai informasi (termasuk informasi pariwisata) yang diinginkannya, sehingga membuat hidup jauh lebih mudah. Wisatawan baik nusantara maupun luar negeri tidak sabar menunggu informasi yang biasanya diberikan melalui biro jasa perjalanan atau pun organisasi lainnya.
Hari Setiyono (BPD PHRI Jawa Timur) menyatakan bahwa pariwisata jatim sebagai pengungkit perekonomian haruslah merencanakan strategi dan penawaran pariwisata, mengutamakan peningkatan standar mutu usaha hotel dan restoran. Kemudian memperbaiki pelayanan pramuwisata daerah, kesiapan produk pariwisata sehingga Rapat ini diharapkan memunculkan rekomendasi dan tindak lanjut reformasi birokrasi dan peningkatan mutu pelayanan kepariwisataan. Juga Pelaku pariwisata perlu memahami UU 28/2009 tentang Pajak Daerah, dimana salah satu pasalnya menyebutkan bahwa jenis pajak kabupaten / kota terdiri atas pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan dan pajak mineral bukan logam dan batuan.
Kemudian Hedy Wahidin Saleh (pakar kepariwisataan) mengemukakan bahwa saat ini, pariwisata tanpa batas, tidak dibatasi wilayah, tidak ada batasan waktu, tidak mengenal batas budaya, tidak ada batas varietas produk dan tidak ada batas habis dikonsumsi. Posisi daya tarik wisata (DTW) Jatim skala nasional – internasional sebagai potensi wisata alam, budaya, special interest, pintu masuk utama, pusat distribusi wisatawan, pusat fasilitas pelayanan wisata, pusat aksesibilitas wisata, dan perlu adanya kesiapan infrastruktur. Kondisi inilah yang sebaiknya dapat ditangkap sebagai peluang bagi upaya reformasi pelayanan kepariwisataan Jawa Timur ke depan, sehingga konsep pendekatan pengembangan pariwisata yang semula lebih product oriented harus diubah menjadi market oriented. Semoga pelayanan kepariwisataan Jawa Timur berkelas dunia dari tahun ke tahun. Amin.
Malang, 26 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar