Selasa, 20 Juli 2010

PETANI ENTREPRENEUR : PETANI MASA DEPAN

Oleh : Satriya Nugraha, SP
satriya1998@gmail.com
Mantan Presiden BEM Fakultas Pertanian Unibraw 2000-2002
Konsultan Pertanian Organik dan Evaluasi Lahan Pertanian

Sabtu, 17 April 2010, Agricoach Consultant dan SNF Consulting mengadakan Seminar Revolusi Pertanian di Hotel Gajahmada Kota Malang. Dalam seminar tersebut dihadiri praktisi-praktisi pertanian, mahasiswa dan marketing pupuk organik. Pemakalah pertama adalah Cak Iman Supriyono, penulis buku Financial Spiritual Quotient. Beliau menjelaskan bahwa pola pikir petani Indonesia menyekolahkan putra/putri mereka agar menjadi orang yang berguna. Tetapi putra / puteri mereka dilarang untuk menjadi petani yang meneruskan warisan orangtua mereka. Orangtua mereka menganggap petani sebagai pekerjaan kutukan. Hal ini berbeda kenyataan dengan petani Amerika Serikat.
Amerika Serikat menjadi produsen gandum terbesar dunia. Gandum dipasarkan selama ratusan tahun lalu, sejak dikenalkan produk usaha seperti roti dan mie kepada masyarakat dunia dan masyarakat Indonesia. Fakta inilah keberhasilan marketing petani Amerika. Petani Amerika Serikat dan pemerintah Amerika Serikat mengajarkan bangsa / Negara lain untuk menyukai dan menikmati produk pertanian. Petani Amerika Serikat mengajarkan putra mereka untuk mengenyam pendidikan tinggi kemudian memiliki luasan lahan dua kali lipat dari orangtua mereka. Luasan lahan petani Amerika Serikat minimal lima hektar dengan pola tanam, penyiraman dan pasca panen menggunakan teknologi modern. Selain itu, petani selandia baru memiliki sapi minimal seribu sampai dua ribu ekor. Petani Jepang memakai mesin penanam benih padi.
Menurut Cak Iman Supriyono, berdasarkan gambaran di atas, ada dua paradigma. Pertama, petani sebagai sebuah tradisi. Petani hanya bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan menyekolahkan putra / putri mereka, tidak melakukan inovasi dan suka menerima perubahan (resistant to change). Petani Indonesia menganggap hidup mereka ibarat air mengalir, bukan hidup ibarat air mengalir yang harus dialiri menggunakan pompa dan kran. Petani Indonesia dalam bertani menggunakan perasaan bukan menggunakan logika ilmiah berpikir. Dengan demikian, petani Indonesia memerlukan pelatih untuk menjadi petani yang hebat.


Paradigma kedua, petani sebagai seorang entrepreneur. Misalnya mindset petani amerika serikat. Mereka berpikir melakukan ekspansi dan perluasan lahan serta produktivitas lahan. Mengkaji marketing pertanian di pasaran dunia. Mereka lebih hebat dalam penggunaan merek dagang pertanian sehingga produk mereka memiliki value tinggi. Itulah kekuatan merk dagang mereka, misalnya Starbucks Coffee, Johnson & Johnson, Mc Donalds dan sebagainya. Ibaratnya ekonomi lima Negara seperti Jerman, Prancis, China, Jepang dan Inggris setara dengan ekonomi Amerika Serikat.
Sedangkan Pembicara kedua adalah Priyo Husodo, SP. Beliau menjelaskan bahwa revolusi pertanian dimulai dari perubahan mindset petani sebagai sebuah tradisi menjadi farmpreneur mindset. Revolusi pertanian tidak berarti ada niatan menjatuhkan pemerintah dan tidak ada berkaitan pemerintah. Inti dari Revoluasi pertanian adalah petani memiliki luasan lahan minimal 1 (satu) hektar, melakukan inovasi teknologi budidaya dan produksi serta inovasi marketing pertanian menjadi petani entrepreneur. Ciri-ciri petani entrepreneur adalah melakukan dan menciptakan pasar baru ; melakukan cerdas financial dan berani mengambil resiko (take a risk and get your dream). Kemudian petani Indonesia harus melakukan promosi terus-menerus terhadap produk mereka (branding) setelah market terbentuk dengan kemasan produk yang menarik hati konsumen (packaging).
Priyo Husodo menjelaskan bahwa petani perlu melakukan komunikasi bisnis dengan pasar modern dan pasar ekspor luar negeri. Teknik melakukan komunikasi bisnis dan membuka marketing ke pasar modern adalah mengirimkan contoh produk petani (product sample), kontak buyer pasar modern dan mengirimkan daftar harga produk (price list). Pastikan bahwa produk pertanian ke pasar modern diambil langsung dari petani yang menanam bukan dari pedagang atau lainnya. Kemudian ada beberapa hal yang dilakukan untuk melakukan ekspor pertanian antara lain : mengirimkan contoh produk, mengirimkan daftar harga, mengemas produk dengan baik, komunikasi dengan pembeli asli luar negeri dan melakukan komunikasi penawaran produk melalui media online internet. Semoga paradigma revolusi pertanian Indonesia bisa merubah petani Indonesia dari petani tradisi menjadi petani entrepreneur. Jayalah Pertanian Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar